Sejarah TF

SEJARAH PENELITIAN & PENEMUAN TRANSFER FACTOR



Pada tahun 1949, Dr. H. Sherwood Lawrence, saat meneliti penyakit TB (Tuberculosis) menemukan “MOLEKUL INFORMASI” yang terkandung di dalam sel darah putih manusia (sistem imun).  Beliau dapati molekul tersebut  dapat dipindah dari satu orang kepada orang yang lain dan dapat memberikan “KEKEBALAN” dari penyakit tersebut kepada penerimanya.  Beliau menamakan molekul tersebut “Transfer Factor” (TF).

Dari penemuan tersebut, penelitian dimulai tahun 1950-an, tahun 1960-an dan 1970-an. Para ilmuwan percaya bahwa mereka telah menemukan sistem kekebalan tubuh dan cara meningkatkan kesehatan yang ampuh. Mereka percaya bahwa transfer factor akan menjadi obat alami yang paling ampuh. Semakin canggih teknologi, semakin banyak yang belajar tentang manfaat transfer factor. Lebih dari 3.000 studi dilakukan dan $ 40 juta (AS) telah diinvestasikan ke dalam penelitian Transfer Factor. Ilmuwan lebih dari 60 negara telah terlibat dalam penelitian ini.

Pada tahun 1974, dua ilmuwan menemukan bahwa seorang ibu mewariskan transfer factor miliknya untuk bayi mereka melalui placenta dan kolostrum untuk memberikan sistem kekebalan tubuh pada bayi mereka dalam menghadapi lingkungan yang penuh dengan penyakit.

Pada tahun 1989, para ilmuwan menemukan sapi juga melakukan hal yang sama. Bahkan, banyak sapi tidak dapat bertahan hidup jika tidak menerima kolostrum dari induknya.

Pada tahun 1998, 4Life Research adalah perusahaan pertama di dunia yang berhasil memproduksi produk berbasis Transfer Factor yang berisi transfer factor dari kolostrum sapi. Selanjutnya, mereka juga menemukan bahwa telur juga mengandung Transfer Factor dan kombinasi keduanya (kolostrum sapi dan telur) akan meningkatkan efektivitas Transfer Factor produksi mereka sampai 283%.

Produk unik dan alami yang dipatenkan itu kini telah hadir di Indonesia untuk meningkatkan kesehatan kita semua. Bahkan bayi yang berumur 3 haripun hingga orang lanjut usia boleh mengkonsumsinya.

Produk Transfer Factor dari kolostrum sapi dan telur ayam yang ditemukan benar-benar unggul untuk manusia karena hewan tersebut terkena lebih banyak jenis bakteri, parasit, virus dan jamur, yang pada akhirnya membuatnya jauh lebih bermanfaat untuk membangun sistem kekebalan tubuh pada manusia.

(Santosa*)